Monday, February 28, 2005



DEPARTEMEN PERTANIAN
Penyakit Virus Kuning pada Cabai

Suarapublika (Kamis, 03 Februari 2005, http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=186192&kat_id=20 ),

Sehubungan dengan adanya pemberitaan di beberapa media massa tentang penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman cabai dan menggunakan istilah setempat dengan nama Bule Amerika, maka pada kesempatan ini kami bermaksud memberikan beberapa informasi dan sekaligus koreksi, sebagai berikut:

  1. Secara ilmiah bahwa penyakit virus kuning (nama resmi menurut kesepakatan para pakar penyakit virus pada tanaman) disebabkan oleh geminivirus Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYLCV), dan ditularkan oleh vektor yaitu hama kutu kebul Bemisia tabaci. Penyakit ini dapat menyerang tanaman inang lain selain cabai, antara lain tomat, tembakau, gulma babadotan (Ageratum conyzoides), dan gulma bunga kancing (Gomphrena globosa).
  2. Kami telah berusaha mensosialisasikan pengenalan dan pengendalian penyakit virus kuning pada tanaman cabai secara nasional, kepada petugas dan petai di daerah-daerah sentra produksi cabai melalui pelatihan, SLPHT, dan penyebarluasan leaflet seperti terlampir.
  3. Penggunaan nama Bule Amerika (yang saat ini banyak digunakan oleh petani DI Yogyakarta dan Jawa Tengah), disarankan agar tidak dipopulerkan lagi karena istilah tersebut tidak baku dan dikhawatirkan dapat menimbulkan persepsi yang tidak diinginkan.

Ir Daryanto, MM
Direktur Perlindungan Hortikultura Ditjen Bina Produksi Hortikultura Deptan

Virus Kuning Resahkan Petani Cabai
*Kerugian Capai Rp 7,31 Milyar....


Bali Post, 11 Februari 2005. Departemen Pertanian mengungkapkan keresahan petani cabai akibat penyakit virus kuning (tomato yellow leaf curl virus-TYCV). Setidaknya, virus ini telah menyerang 11 propinsi di tanah air termasuk Bali dan menyebabkan total kerugian finansial mencapai Rp 7,31 milyar. "Penyakit virus kuning tersebut ditularkan lewat hama kutu kebul (Bemicia tabaci). Kumulatif luas serangan penyakit virus kuning per 31 Desember mencapai 984,6 hektar," ungkap Direktur Perlindungan Holtikultura Direktorat Jenderal Bina Produksi Holtikultura Departemen Pertanian, Daryanto kepada pers di Jakarta, baru-baru ini.

Berdasarkan pengamatan Direktorat Perlindungan Holtikultura, prakiraan tingkat kehilangan hasil petani sekitar 1.626 ton. Dengan harga cabai di tingkat petani Rp 4.500 per kilogram (kg) maka tingkat kerugian mencapai 7,31 milyar. Menurut Daryanto, kini penyakit virus kuning menyerang lahan tanaman cabai di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Bengkulu, Kalimantan Timur dan Gorontalo.

Dirjen Bina Produksi Holtikultura Sumarno mengatakan salah satu penyebab terjadinya endemi virus kuning adalah petani cabai merah tidak melakukan pergantian tanaman. Menurut dia, virus kuning sebenarnya telah menyerang tanaman cabai di Indonesia sejak tahun 2000. Di daerah Magelang misalnya, petani melakukan penanaman cabai merah untuk sepanjang tahun. "Akibatnya virus kuning tersebut menjadi endemi," kata Daryanto.

Penanganan virus kuning akan dilakukan Deptan dengan mensosialisasikan pengenalan dan pengendalian virus kuning. Virus kuning dapat ditangani dengan membunuh kutu kebul yang membawa virus tersebut "Dengan pestisida biasa kutu kebul dapat ditangani," kata Daryanto. Penanganan juga harus dilakukan ketika tanaman cabai berumur 1-1,5 bulan. Sebab, penanganan akan terlambat jika daun cabai merah sudah menguning. Petani akan mengalami kerugian karena tanaman cabai merah tersebut tidak dapat menghasilkan. "Penyemprotan pada tanaman umur 1,5 bulan juga menjadi langkah pemberantasan virus kuning tidak menimbulkan residu pestisida pada cabai," tegasnya.

Deptan juga akan mengerahkan petugas di daerah-daerah sentra produksi cabai yang mensosialisasikan penanganan virus kuning. Di samping sosialisasi virus kuning, Deptan juga melakukan sosialisasi penanganan penyakit cabai lainnya. Secara umum ada tiga penyebab penyakit cabai, yaitu cendawa, bakteri dan virus (Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/2/11/e1.htm )

Virus Cabai: Bule Amerika atau ``Tomato yellow leaf curl virus" ?

Tulisan ini bermaksud untuk menanggapi Suarapublika (Kamis, 03 Februari 2005, http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=186192&kat_id=20 ), Departemen Pertanian Penyakit Virus Kuning pada Cabai. Di sana tersirat, ``secara ilmiah bahwa penyakit virus kuning (nama resmi menurut kesepakatan para pakar penyakit virus pada tanaman) disebabkan oleh geminivirus Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV)``. Hal ini di maksudkan untuk memberikan informasi sekaligus koreksi sehubungan dengan adanya pemberitaan di beberapa media masa tentang penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman cabai dan menggunakan istilah setempat dengan nama Bule Amerika.
Mengikuti kata pepatah “apalah arti sebuah nama”, namun dalam bidang ilmiah khususnya taksonomi perlu mengikuti aturan/kaidah-kaidah ilmiah yang telah ada. Apakah tepat penggunaan nama ``Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV)`` untuk virus penyebab penyakit kuning pada tanaman cabai ?
Geminivirus di klasifikasikan dalam famili Geminiviridae yang terdiri dari 4 genus yaitu Begomovirus, Mastrevirus, Curtovirus dan Topocuvirus. Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV, tercatat di GenBank, DDBJ atau EMBL dengan nomor X15656 ) merupakan salah satu spesies begomovirus yang di temukan pada tanaman tomat dengan gejala yellow leaf curl dari Isreal. Merujuk ke revisi terakhir taksononomi begomovirus dari The international committee on Taxonomy of viruses (ICTV) yang di tulis di Archives of Virology (2003) 148:405-421; bila setelah itu di temukan begomovirus pada tanaman tomat dan memiliki kesamaan urutan sekuen DNA yg sama atau lebih dari 90%, maka akan di namakan Tomato yellow leaf curl virus-diikuti nama negara atau city. Misal saat ini yang ada di Genbank, di antaranya dari Aichi dan Shizuoka (Jepang), dan Cuba mempunyai kesamaan urutan sekuen lebih dari 90% dengan TYLCV, lalu di namakan Tomato yellow leaf curl virus-[Shizuoka], Tomato yellow leaf curl virus -[Aichi], Tomato yellow leaf curl virus-[Cuba], di singkat masing-masing TYLCV-[Shi] (AB014346), TYLCV-[Aic] (AB014347), TYLCV-[CU] (AJ223505). Bila menemukan virus dari tanaman tomat dengan kesamaan urutan sekuen kurang 90% dari TYLCV maka di klasifikasi pada spesies yang berbeda. Misal Tomato yellow leaf Thailand virus di singkat TYLCTHV (X63015) memiliki urutan sekuen dengan kesamaan kurang dari 90%. Bila menemukan/mengidentifikasi virus dengan urutan sekuen yang sama/lebih dari 90% dengan TYLCV dari tanaman lain, maka penulisannya akan TYLCV-[nama tanaman]. Contoh EpYVV-[Tob] (E15418) merupakan virus yang memiliki kesamaan urutan sekuen lebih dari 90% dengan Eupatorium yellow vein virus (EpYVV, AB007990) yang di isolasi dari tembakau.

Bila para pakar yg bersepakat dengan berita tersebut menemukan/ mengidentifikasi virus dari tanaman cabai di Indonesia dan ternyata memiliki kesamaan sekuen DNA yag sama atau lebih dari 90% dengan TYLCV, maka namanya boleh mungkin Tomato yellow leaf curl virus-[pepper] (TYLCV-[pepper]), nama negara belum di cantumka karena sampai saat ini belum ada/ditemukan sekuen yg sama dengan TYLCV dari tanaman cabai. Kalau sekuennya berbeda/kurang 90% dengan TYLCV tentu namanya akan lain lagi, missal Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PepYLCIDV). Kalau belum ada data sekuen sebaiknya tidak menggunakan TYLCV, barangkali pakai saja nama gejala penyakit misal Pepper yellow leaf curl disease atau Penyakit daun kuning cabai atau penyakit daun keriting kuning cabai.
Sekali lagi apalah arti sebuah nama...namun karena memberi nama resmi secara ilmiah sebaiknya kaidah-kaidah ilmiah juga jangan di tinggalkan.
(Sukamto, kamto@bios.tohoku.ac.jp, Mahasiswa Program Doktor Plant Pathology Tohoku University)

Babadotan sebagai obat tradisional tapi awas bisa jadi sumber virus

Babadotan Sebagai Obat Tradisional
Ageratum conyzoides Linn. merupakan tumbuhan dari famili Asteraceae. Tumbuhan ini di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama yang berbeda antara lain di Jawa di sebut babadotan, di Sumatera dikenal daun tombak, dan Madura akrab di sebut dus wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30-80 cm dan punya daya adaptasi yang tinggi (1), sehingga sering menjadi gulma yang menjengkelkan para petani. Gulma atau tumbuhan liar ini menjadi pesaing tanaman yang di budidayakan dalam pengambilan unsur hara, cahaya matahari maupun tempat tumbuh. Di balik itu, babadotan ternyata telah di gunakan secara luas dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Sebut saja di India, babadotan di gunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan antilithic. Sedangkan di Brazil, perasan/ekstrak tanaman ini sering di pakai untuk menangani kolik, flu dan demam, diare, rheumatik dan efectig mengobati luka bakar. Di Indonesia, babadotan banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Secara ilmiah tanaman ini terbukti sebagai obat antiinflamasi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang di sebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu babodotan juga dapat menhambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa (Almagboul et al. ,1985). Tak hanya daun ternyata akar babadotan, menurut Pakar dan Ketua Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupunktur Indonesia, Prof. HM Hembing Wijayakusuma, dapat mengatasi disentri, diare atau panas. Untuk keperluan tersebut gunakan 30 gram akar tumbuhan bandotan direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat (Suarakarya, online). Melihat manfaatnya yang begitu banyak, sepertinya tak ada salahnya jika kita untuk menjaga babadotan agar tak punah bahkan mungkin membudidayakannya. Namun hati-hati bila tanaman ini menunjukkan gejala daun menguning, bisa jadi akan menjadi sumber virus yang akan menyerang tanaman anda.

Virus pada Babadotan

Sejak kapan babadotan terserang geminivirus dengan gejala daun lurik menguning tak catatan sejarah yang pasti. Namun gejala tersebut dalam berbagai tulisan telah di temukan sejak lama dan di duga sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas dan tomat. Tan dkk pada tahun 1995 mengidentifikasi virus dari babadotan asal Singapore sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviridae.Tingginya serangan begomovirus pada beberapa tanaman yang di budidayakan juga telah memberikan pemikiran untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk babadotan yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa species begomovirus dari babadotan di China, Taiwan dan Pakistan dan terdaftar di Genebank dengan nomor